Wednesday, 12 August 2009

Kejujuran Tuhan, munafiknya manusia








Tuesday, 11 August 2009

Kesabaran


Peradaban modern melatih dan membuat kita selalu berkompetisi untuk menjadi lebih cepat. Apapun yang dilakukan dengan lebih cepat dan jika menghasilkan kesuksesan, akan menjadikan diri kita mendapatkan decak kagum dari orang lain. Yah begitulah tuntutan jaman modern yang serba cepat dan harus terburu-buru, sampai sampai kita tidak bisa melihat apa yang telah kita perbuat sampai detik ini. Bagi kita yang baru memulai karir baru di suatu perusahan, karena tuntutan kompetisi sudah harus memikirkan bagaimana memikirkan posisi atasan dalam 2 atau tiga tahun lagi. Bagi teman kita yang baru berumah tangga sudah harus memikirkan bagaimana cepat cepat punya anak atau bagi saudara kita yang baru menjadi pedagang, harus buru-buru mencari usaha baru yang lebih menguntungkan.Tidak ada yang salah memang dengan kompetisi yang sangat cepat ini, hanya saja kalau kita larut didalamnya, kita akan mendapatkan diri kita berjalan sangat jauh, dan tidak bisa lagi mengingat makna dari tahapan yang kita lalui. Proses yang kita lalui akan menjadi gersang, dan kehilangan makna serta akan hilang dengan berjalannya fungsi waktu. Inilah apa yang disebutkan oleh orang tua perjalanan yang terburu-buru. Melihat makna dari langkah demi langkah yang kita jalani memerlukan sikap yang lebih sabar.
Tidak mudah menjadi sabar kalau kita tidak tahu apa yang harus kita sadari.Dalam Agama Hindu, sikap sabar dijabarkan begitu luhurnya dalam ajaran Panca Yama Brata. Sikap sabar hendaknya menjadi landasan spiritual didalam memandang masalah yang dihadapi. Orang yang sabar lebih banyak mendapatkan berkah dari yang tidak sabar. Tutur katanya akan dijaga dengan intonasi yang enak didengar. Ucapannya akan mengalir dalam wacika yang tidak mungkin akan menyakiti orang lain. Inilah yang akan membuat mereka yang sabar menjadi orang yang mulia dalam pemujaan kehadapan Hyang Widi, menyucikan sang Atman dalam diri dan diterima oleh orang lain karena ketulusannya.
Agama Hindu mengajarkan umatnya untuk menjadi orang yang sabar dan bersyukur, tidak dengan ucapan ucapan yang mubazir, tetapi melalui praktek praktek spiritual yang melatih Panca Karmendria dan Panca Budindria menjadi seorang yang satwika. Inilah ajaran Hindu Diet Code yang sangat dikagumi.
Kalau kita telusuri lebih jauh, banyak faktor yang mempengaruhi kita menjadi orang yang tidak sabar. Karma Wasana kita masa lalu, Pengetahuan kita tentang tatwa, minimnya pratek spiritual dan Keterikatan kita yang sangat besar adalah beberapa hal diantaranya.
Karma wasana kita di masa lalu sangat menentukan pola kebribadian yang kita miliki. Orang yang berasal dari kelahiran utama akan terpatri dalam dirinya awidya yang sangat sedikit sehingga melahirkan pola kepribadian yang lebih sabar. Akan tetapi bagi kita yang mungkin berasal bukan dari kelahiran utama, mungkin akan terpatri sikap sikap yang menonjolkan Rajas atau Tamas. Ajaran Hindu yang sangat luhur menganjurkan agar kita tidak perlu mempermasalahkan dari mana kelahiran kita, yang lebih diutamakan adalah bagaimana melatih pola kepribadian kita menjadi lebih satwika. Disinilah melatih lidah dan pikiran dengan Sadana dan Kirtan sangat dianjurkan. Semakin sering kita menyebut samaranam Tuhan, semakin lembutlah hati, pikiran dan ucapan kita serta awidya dalam diripun akan menipis.
Pengetahauan kita tentang tatwa dan susila yang sangat minim adalah masalah kedua kenapa kita menjadi orang yang tidak sabar. Mungkin sebagian besar dari kita menganggap ini adalah pernyatan klise, akan tetapi pengalaman empiris di keseharian menunjukkan saudara saudara kita yang berjalan di dunia spiritual Hindu mempunyai kesabaran yang sangat mengagumkan. Tingkatan jnana kita dan praktek spiritual kita yang membedakan tingkatan kesabaran kita. Kalau kita tidak pernah menyadari di tingkat mana kecerdasan spiritual kita, maka selamanya kita akan menjadi orang yang kerdil. Kerdil dalam arti kebijaksanaan kita dalam menyelesaikan masalah sangat rendah. Tidak sedikit persoalan yang dihadapi harus diselesaikan dengan Hati Nurani, bukan dengan Logika yang mengedepankan benar dan salah. Kalau sudah menyangkut Hati Nurani, hanya orang yang sabar dan memiliki kecerdasan Jnana yang baiklah yang menjadi sukses. Kalau sudah begini, kapan kita akan mempelajari dan mempraktekkan jnana tentang tatwa dan Susila ?
Latihan latihan spiritual adalah faktor yang ketiga. Memliki Jnana yang sangat tinggi jika tidak dilatih dengan latihan latihan spiritual yang berkesinambungan bukannya menjadikan kita orang yang sabar dan rendah hati, akan tetapi membawa kita kedalam penonjolan kesombongan diri, dengan cirri sikap Rajas dan Tamas yang sangat kental. Kalau Rajas sudah sangat menonjol dalam sang diri, maka semua tindakan akan dilakukan atas dasar pembenaran diri. Tidak sedikit kita menjumpai anak anak muda kita memiliki Jnana yang baik tetapi larut dalam minuman keras dan sikap tamas lainnya. Oleh karena itu, melakukan praktek praktek spiritual dengan teratur, sangat dianjurkan karena akan melatih pola pikir, perkataan dan sikap yang rendah hati.
Faktor yang terakhir adalah keterikatan kita yang sangat besar akan segala hal. Seorang atasan dengan keterikatan jabatan dipundaknya cenderung menjadi orang yang lebih mudah marah dan tidak sabar. Demikian pula keterikatan seorang majikan atas pembatunya. Keterikatan yang terlalu besar kadang kadang membuat kita celaka karena semua dilakukan atas pembenaran diri. Oleh karena itu, Githa mengajak kita untuk melepaskan segala bentuk keterikatan agar kita menjadi orang yang rendah hati dan sabar. Menjadi orang yang bisa merasakan kesenangan dan kesedihan dalam kejernihan sang Atman, “Sama dukha dukha diram, moksartham ca iti darma”.
Dengan menyadari faktor faktor ini, Hindu mengajarkan tidak mudah melatih diri menjadi orang yang sabar. Diperlukan kejujuran, sikap mental dan semangat untuk berubah. Namun, ada satu hal yang sering disampaikan oleh para spiritual Hindu agar kita menjadi lebih Sabar. Mulalah dari pengendalian Lidah. Berilah lidah makanan yang banyak mengandung unsur Satvika. Latihlah bagian tubuh kita yang paling penting ini dengan mengucapkan nama nama Beliau setiap saat. Dengan memulai dua hal ini secara terus menerus dan konsisten, niscaya awidya dalam angga sarira menipis, dan kita menjadi orang yang rendah hati, lemah lembut, sabar serta mulia dihadapan Hyang Widhi dan sesama manusia.

Monday, 10 August 2009

Kebebasan


Kebebasan pada dasarnya keinginan setiap mahluk di dunia ini. Akan tetapi adanya faktor-faktor yang mempengaruhi kebebasan itu antara lain salah satunya lingkungan.
Lingkungan ini yang paling berperan dalam mencapai kebebasan itu. contoh anjing di atas, dia akan merasa nyaman seandainya si tuan pemilik anjing memberikan kebebasan untuk melakukan apa saja sesuai dengan keinginan si pemilik( si pemilik menerimannya).
Sama halnya dengan kita sebagai mahluk yang sempurnya katanya, kok kita merasa kebebasan jarang kita dapatkan. Norma-norma yang ada pada masyarakat kita sering menjadi bumerang untuk mendapatkan kebebasan itu ( metegul tanpe tali), yang secara otomatis akan mengekang kebebasan itu.
Di masyarakat kita Bali khususnya banyak sekali manusia-manusia yang kasat mata sakit secara rohani dari norma-norma yang ada dalam masyarakat, yang lambat laun membuat masyarakat akan tergerus dari teknologi maupun berkembang mental dalam jangka panjang. Disinilah peran kita sebagai individu dan masyarakat di harapkan belajar dan ambil keputusan yang cepat agar mendapatkan mengerti dan memahami arti dilahirkan di bumi pertiwi ini.